Kalau seseorang melakukan sesuatu hal ketika dia disuruh terlebih dahulu buat melakukannya, bukan karena kemauan dia sendiri, ternyata itu rasanya beda banget, ya? Maka, yang terpaksa melakukannya atas dasar dimintai tolong atau ada rasa enggak enakan, jika dipikir-pikir dan direnungkan lagi, kok sungguh menyedihkan.

Lebih kacaunya lagi, setiap kali dia melakukan sesuatu hal pasti harus selalu diminta. Enggak ada sedikit pun inisiatif. Lama-lama kasihan banget orang yang mencoba minta tolong itu. Kebaikan yang menolong seolah-olah palsu. Kenapa dia enggak terus terang atau jujur aja? Seandainya keberatan atau lagi enggak bisa, ya bilang aja apa adanya. Daripada nanti kacau dua-duanya. Yang satu ribet dan terpaksa, yang satunya lagi jadi sedih karena perlakuan semacam itu.

Jelas akan sangat berbeda jika apa yang dilakukan orang itu benar-benar tulus membantu. Kala dimintai tolong, dia bersedia secara sukarela. Enggak mengeluh atau ngedumel di belakang. Itu pasti menggembirakan. Apalagi ketika orang yang diharapkan bisa mengerti keadaanmu tanpa harus bilang. Dia bisa peka akan hal tersebut. Itu betul-betul bikin bahagia.

Nah, kalau yang terjadi malah sebaliknya? Seperti yang apa-apa kerap terpaksa itu? Pasti bagaikan dibohongi. Naasnya, di kehidupan nyata ini, sewaktu kita sudah coba bercerita dan meminta tolong, tapi tetap aja enggak ada yang mau mendengarkan dan mengerti. Atau dia cuma pura-pura untuk peduli. Pasti terasa begitu hampa. Ah, hampa, itu seakan-akan tengah berada di titik terendah hidup.


 

 

Aku sendiri pun pernah berada di titik itu. Kira-kira setahun yang lalu. Beberapa minggu lalu juga sempat mengalami, sih. Bedanya, aku sudah terbiasa tabah dan cukup berpengalaman untuk mengatasinya. Kekosongan ditambah rasa kesepian ini memang tak bisa dihindari dalam diri manusia. Ia akan selalu datang, meski tak pernah diundang. Merasa diri sendiri tidak berarti lagi. Tak berharga. Hidup mulai kehilangan makna dan tujuannya.

Namun, seburuk-buruknya hidup, aku sepertinya enggak punya pilihan lain selain melewatinya. Menjadi pribadi yang lebih kuat. Supaya bisa naik level. Ke depannya pasti ada yang lebih berat. Lagian, Tuhan berjanji bukan untuk tidak memberikan cobaan atau beban melebihi kemampuan hamba-Nya, kan? Berarti Tuhan percaya kalau aku mampu. Jangan sampailah mengakhiri hidup dengan cara-cara melawan takdir, sepelik apa pun problem kehidupan. Cobalah untuk menjalani hidup dan terus belajar dari pengalaman-pengalaman pahit itu, sebab hidup memang begini. Aku mencoba untuk terus melawan sekalipun tahu pada akhirnya akan kalah juga.

Aku mungkin cuma harus pintar-pintar melihat segala sesuatu yang tidak kusukai maupun benci, atau bahkan membuat diri ini malah suuzan sama Tuhan, dengan menggeser sudut pandang. Sehingga setiap hal yang kujalani dengan derita itu, barangkali benar-benar ada hikmahnya. Sebagaimana yang tertera di surah Al-Insyirah: Dalam setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Aku ingin terus memercayainya.